Home / Tokoh dan Sejarah / Tokoh Perumus Lahirnya Pancasila

Tokoh Perumus Lahirnya Pancasila

Pekanbaru – (05/06/2017) ~ Bangsa Indonesia telah membulatkan tekad untuk menjadikan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia. Perumusan Pancasila sebagai Dasar Negara Republik Indonesia merupakan hasil kesepakatan bersama para pendiri bangsa yang kemudian sering disebut sebagai sebuah “Perjanjian Luhur” bangsa Indonesia. Siapa sajakah tokoh (pendiri bangsa) dibalik perumusan Pancasila ?

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno yang biasa dipanggil Bung Karno, dikenal sebagai Bapak Proklamator Indonesia, karena beliau bersama Drs. Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Soekarno lahir di Surabaya, 6 Juni 1901 dengan nama lahir Koesno Sasrodihardjo, namun karena sering sakit maka ayahnya mengganti namanya menjadi Soekarno. Nama tersebut diambil dari nama seorang panglima dalam kisah Bratha Yudha, yaitu Karna, sedangkan awalan Su dalam bahasa Jawa berarti baik. Ayahnya bernama Raden Sukemi Sasrodiharjo yang masih keturunan Raja Kediri dan ibunya bernama Ida Ayu Nyoman Rai yang masih keturunan bangsawan Bali.

Soekarno muda ketika menjadi mahasiswa di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang ITB) membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI). Pada Kongres PNI pertama, Soekarno terpilih sebagai Ketua PNI. Kegiatan politik Soekarno muda tidak disukai Belanda sehingga ia sering dipenjarakan. Meskipun demikian, Soekarno tidak patah semangat untuk berjuang memerdekakan Indonesia.

Pada jaman pendudukan Jepang, Ir. Soekarno diminta Jepang mengobarkan semangat bangsa Indonesia agar bersedia membantu melawan Sekutu. Untuk itu, Ir. Soekarno bersama dengan Drs. Moh. Hatta, K.H. Mas Mansyur, dan Ki Hajar Dewantara (Empat Serangkai) ditunjuk sebagai pemimpin organisasi Putera (Pusat Tenaga Rakyat). Namun, oleh tokoh Empat Serangkai, Putera justru dimanfaatkan untuk mengembleng watak bangsa Indonesia agar lebih cinta dan rela berkorban untuk tanah airnya.

Menjelang kemerdekaan Indoensia, Ir, Soekarno berjuang di dalam organisasi BPUPKI dan PPKI. Ir. Soekarno menyumbangkan pemikirannya dalam pembentukkan dasar negara Indonesia merdeka yang disebutnya dengan Pancasila. Ir. Soekarno juga dipercaya menjadi Ketua PPKI yang dipersiapkan untuk membentuk Indonesia merdeka. Puncaknya, Ir. Soekarno bersama Drs. Moh. Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945 mengumandangkan Proklamani Kemerdekaan Indonesia atas nama seluruh bangsa Indonesia. Meskipun bangsa Indonesi telah merdeka, perjuangan Ir. Soekarno tidak berhenti begitu saja. Pada sidang PPKI tanggal 18 Agustus 1945, Ir. Soekarno terpilih dan dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia yang pertama. Ir. Soekarno wafat pada tanggal 20 Juni 1970 dan dimakamkan di Blitas, Jawa Timur. Pada tahun 1986 oleh pemerintah Indoensia, Ir, Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dianugerahi gelar Proklamator Indonesia.

Muhammad Yamin dilahirkan di Sawahlunto, Sumatera Barat, pada tanggal 23 Agustus 1903. Ia menikah dengan Raden Aheng Sundari Mertoatmadjo. Di jaman penjajahan, Yamin termasuk segelintir orang yang beruntung karena dapat menikmati pendidikan menengah dan tinggi. Lewat pendidikan itulah Yamin sempat menyerap kesusasteraan asing, khususnya kesusasteraan Belanda.

Moh. Yamin muda memiliki rasa nasionalisme yang sangat besar. Hal itu dibuktikannya dengan bergabung pada organisasi Jong Sumatranen Bond (JBS) serta Indonesia Muda.

Moh. Yamin sering mengkritik pemerintah kolonial Hindia Belanda. Karena keberanian dan kritikannya yang sangat tajam, maka Belanda mencabut beasiswa yang diberikan kepadanya. Namun, Moh. Yamin tidak gentar menghadapinya. Pidato dan kritikan tajam serta ajakannya untuk bersatu melawan penjajah dikemukakannya pada Kongres Pemuda II di Jakarta. Dalam Kongres Pemuda II di Jakarta, Mohammad Yamin menjabat sebagai sekretaris panitia kongres.

Menjelang kemerdekaan, Moh. Yamin aktif dalam BPUPKI. Pada tanggal 29 Mei 1945, Moh. Yamin menyumbangkan pemikirannya tentang dasar negara untuk Indonesia merdeka dalam sidang BPUPKI. Ia juga terlibat dalam Panitia Sembilan di BPUPKI. Moh. Yamin bahkan yang memberi nama hasil rumusak dasr negara yang dihasilkan Panitia Sembilan dengan sebutan Jakarta Charter atau Piagam Jakarta.

Dalam sidang BPUPKI, Moh. Yamin banyak memainkan peran. Pada hari pertama sidang BPUPKI pertama, 29 Mei 1945, Moh. Yamin menyampaikan pidato tentang konsep dasar negara di depan anggota BPUPKI lainnya. Rumusan dasar negara usulan Moh. Yamin ini terdiri dari 5 hal pokok, yaitu :

  1. Peri kebangsaan;
  2. Peri kemanusiaan;
  3. Peri ketuhanan;
  4. Peri kerakyatan; dan
  5. Kesejahteraan rakyat.

Setelah menyampaikan pidatonya, Moh. Yamin menyampaikan usul tertulis naskah Rancangan Undang-Undang Dasar. Di dalam Pembukaan Rancangan UUD itu tercantum rumusn lima asas dasar negara yang berbunyi sebagai berikut :

  1. Ketuhanan Yang Maha Esa;
  2. Kebangsaan Persatuan Indonesia;
  3. Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab;
  4. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan;
  5. Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Jika diperhatikan lebih seksama, usulan tertulis Moh. Yamin di atas sangat mirip dengan sistematika dasar negara Pancasila sekarang, perbedaannya terdapat pada urutan sila kedua dan ketiga serta beberapa kata yang dihilangkan.

Selain mengusulkan dasar negara dalam sidang BPUPKI, Moh. Yamin juga dipercaya menjadi salah satu anggota panitia kecil bersama Soekarno yang bertindak sebagai ketua panitia kecil, K.H. Wachid Hasyim, A.A. Maramis, M. Soetardjo Kartohadikoesoemo, Otto Iskndardinata, dan Bagoes Hadikoesoemo. Hasil dari panitia kecil ini adalah Piagam Jakarta dimana rumusn dasar negara dalam Piagam Jakarta tersebut tidak jauh berbeda dengan rumusan Moh. Yamin secara tertulis.

Soepomo dilahirkan pada tanggal 23 Januari 1903 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Soepomo muda bersekolah di Europeesche Lagere School (setingkat SD) dan lulus tahun 1917. Selanjutnya ia melanjutkan ke Meer Uitgebreid Larger (setingkat SMP) di Solo dan lulus tahun 1920. Setelah lulus dari SMP, Soepomo kemudin berangkat ke Jakarta meneruskan pendidikan Rechtschool (sekolah hukum) dan lulus 3 tahun kemudian. Soepomo setahun kemudian mendapat kesempatan belajar di Universitas Leiden dan memperoleh gelar Meester In Rechten (Mr.) dan doktor ilmu hukum.

Selama belajar di Belanda, Soepomo ikut organisasi Perhimpunan Indonesia. Setelah pulang dari Belanda, Soepomo menjadi ahli hukum. Karena Soepomo ahli hukum, maka Jepang menunjuknya untuk mengepalai Departemen Kehakiman. Soepomo aktif dalam BPUPKI. Dalam sidang BPUPKI pada tanggal 31 Mei 1945, Soepomo mengajukan konsep dasar negara Indonesia merdeka, Soepomo juga aktif menjadi ketua panitia kecil bagian dari Panitia Perancang Undang-Undang Dasar. Dalam pidatonya itu beliau menyampaikan gagasannya mengenai lima dasar negara Indonesia merdeka, yang terdiri dari :

  1. Persatuan;
  2. Kekeluargaan;
  3. Keseimbangan lahir batin;
  4. Muyawarah; dan
  5. Keadilan rakyat.

Ketika Indonesia merdeka, Soepomo diangkat menjadi Menteri Kehakiman. Ia juga pernah menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris. Soepomo meninggal pada tanggal 12 September 1958 di Jakarta dan dimakamkan di Solo. Atas jasa-jasanya pemerintah Indonesia menetapkan Soetomo sebagai Pahlawan Kemerdekaan.

Demikian, semoga bermanfaat…….. (@nunovia)

Sumber (dirangkum dari berbagai sumber) :

Arsip

December 2021
M T W T F S S
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Arsip

december, 2021

No Events

X